Beberapa kelompok masyarakat merasa bahwa puisi merupakan bagian dari hidup yang di letakkan pada sisi yang tidak penting. Gejala ini dapat terlihat dari perayaan-perayaan atau kegiatan sastra. Puisi tidak dapat memberikan makan, seperti itulah perkataan masyarakat ketika saya mewawancarai mereka untuk sebuah karya ilmiah saya. Apakah puisi telah mati? Mati di dalam tatanan sosial, dan tidak bergema sama sekali karena banyaknya faktor.
Ironisnya, realita seperti itu justru berkembang pula di suatu lokasi sastra, sebuah lokasi yang dihuni oleh akademisi sastra. Padahal, mereka adalah manusia-manusia yang seharusnya akrab dengan kegiatan sastra, tetapi kekosongan atas kegiatan sastra menjadi tumbuh subur. Lihatlah, beberapa kali kegiatan sastra di Fakultas Sastra Unpad tidak mendapatkan animo besar. Peminat kegiatan-kegiatan sastra jauh lebih sedikit dibandingkan dengan kegiatan-kegiatan lainnya. Mahasiswa lebih memilih kegiatan yang memiliki keuntungan yang real bagi dirinya, seperti acara diskusi yang memberikan iming-iming sertifikat.
Seseorang teman saya (berkecimpung di dunia sastra) yang mengetahui realita puisi dan sastra di Fak. Sastra Unpad, menyatakan keprihatianannya. Beliau melihat dan membandingkan dengan realita yang terjadi di UPI (Salah satu Universitas terdekat dengan Unpad), Unpad tetinggal ‘beberapa abad’, begitulah ungkapannya. Mahasiswa UPI sering memunculkan karya-karya mereka di media masa, khususnya puisi. Memang, hampir setiap bulan saya melihat karya-karya mahasiswa UPI muncul di sebuah media masa yang memberikan ruang sastra setiap Sabtu (dalam periode dua minggu sekali). Di Sastra Unpad, beliau (teman saya) hanya melihat satu atau dua puisi yang tertempel di ‘mading’, berbeda dengan UPI yang ramai dengan puisi, baik di ‘mading’ maupun tertera langsung di dinding. Mengapa hal ini bisa terjadi? Kulturkah yang menjadikannya seperti ini? Atau disebabkan karena struktur?
Saya pun khawatir dengan mahasiswa Sastra Unpad, apakah banyak mahasiswa yang mengetahui hari puisi sedunia yang ditetapkan oleh sebuah lembaga PBB? Kalau tidak, ini artinya sama saja dengan masyarakat luas yang memiliki paradigma terhadap sastra dan puisi. Indikasinya dapat terlihat, pada tanggal 21 Maret di Fakultas Sastra Unpad tidak ada sama sekali perayaan puisi sedunia tersebut. Bahkan, saya tidak lagi menemukan puisi-puisi terpampang di mading. Apakah hal ini terjadi kembali pada hari puisi nasional yang jatuh pada tanggal 28 April nanti? Terlepas dari perdebatan banyak kelompok mengenai hari puisi nasional yang ditetapkan berdasarkan tanggal wafatnya ‘dewa’ penyair Indonesia, yakni Chairil Anwar.
Harapan menghidupkan kembali suasana sastra melalui puisi di Sastra Unpad ada pada mahasiswa angkatan baru (2007-2008). Siapa lagi yang akan menjadi seorang Bob Marno di Sastra Unpad? Sejak tahun 2000-an, Bob Marno dikenal sebagai seorang penyair yang fenomenal di Sastra Unpad. Membaca puisi di berbagai situasi dan tempat, Bob Marno seperti memiliki rasa penyair yang hidup. Jiwanya seperti telah kerasukan kenikmatan puisi sebagai penyair, dan membuka suara hati dirinya dan pendengar. Tidak mungkin seorang Bob Marno harus kembali lagi ke Sastra Unpad untuk menghidupkan suasan sastra atau puisi di Sastra Unpad. Atau bahkan, tidak mungkin seorang pak Baban yang dikenal pula sebagai ‘puisikus’ Sastra Unpad pada masa kuliahnya harus menghidupkan suasana yang telah mati. Maka, harapan ada pada mahasiswa baru tersebut.
Setelah harapan itu dibentuk, awal hidupnya kembali kegiatan-kegiatan sastra atau puisi di Sastra Unpad tidak hanya ada ketika diskusi kecil diadakan di pelataran Gorky Park, tetapi di berbagai waktu dan tempat. Ketika suasana tersebut telah tumbuh pesat, maka saatnyalah merangkul masyarakat yang ‘takut’ dengan puisi dan lebih memilih pragmatis.
Oleh Fredy Wansyah, dengan nama penanya Fredy Pengembara
fredywp.blogspot.com

Pemilu sebentar lagi. Inilah perhelatan akbar yang menyita perhatian semua orang. Di televisi melalui iklan yang berhamburan klaim keberhasilan partai, di koran berupa berita dan (lagi-lagi) iklan. Saat kita keluar rumah, perhatian kita terbetot oleh rimba spanduk yang merayu dan mendayu.
Pada bagian pertama tulisan ini, saya akan membaca rubrik Titik Toedjoe jurnal Boemipoetra. Rubrik ini selalu ada setiap penerbitan. Mulai edisi pertama yang terbit pada pertengahan 2007 hingga edisi ke sebelas pada Februari 2009, rubrik ini selalu muncul dan selalu ditempatkan di cover depan. Tulisan singkat padat ini tampil semacam editorial yang menyatakan sikap redaksi terhadap sesuatu. Topik apapun yang dibicarakan biasanya selalu dilihat dari perspektif redaksinya. Karena itu, ada baiknya pada bagian awal tulisan ini saya khusus membaca Titik Toedjoe Boemipoetra.



Komentar Terakhir