Beberapa kelompok masyarakat merasa bahwa puisi merupakan bagian dari hidup yang di letakkan pada sisi yang tidak penting. Gejala ini dapat terlihat dari perayaan-perayaan atau kegiatan sastra. Puisi tidak dapat memberikan makan, seperti itulah perkataan masyarakat ketika saya mewawancarai mereka untuk sebuah karya ilmiah saya. Apakah puisi telah mati? Mati di dalam tatanan sosial, dan tidak bergema sama sekali karena banyaknya faktor.
Ironisnya, realita seperti itu justru berkembang pula di suatu lokasi sastra, sebuah lokasi yang dihuni oleh akademisi sastra. Padahal, mereka adalah manusia-manusia yang seharusnya akrab dengan kegiatan sastra, tetapi kekosongan atas kegiatan sastra menjadi tumbuh subur. Lihatlah, beberapa kali kegiatan sastra di Fakultas Sastra Unpad tidak mendapatkan animo besar. Peminat kegiatan-kegiatan sastra jauh lebih sedikit dibandingkan dengan kegiatan-kegiatan lainnya. Mahasiswa lebih memilih kegiatan yang memiliki keuntungan yang real bagi dirinya, seperti acara diskusi yang memberikan iming-iming sertifikat.
Seseorang teman saya (berkecimpung di dunia sastra) yang mengetahui realita puisi dan sastra di Fak. Sastra Unpad, menyatakan keprihatianannya. Beliau melihat dan membandingkan dengan realita yang terjadi di UPI (Salah satu Universitas terdekat dengan Unpad), Unpad tetinggal ‘beberapa abad’, begitulah ungkapannya. Mahasiswa UPI sering memunculkan karya-karya mereka di media masa, khususnya puisi. Memang, hampir setiap bulan saya melihat karya-karya mahasiswa UPI muncul di sebuah media masa yang memberikan ruang sastra setiap Sabtu (dalam periode dua minggu sekali). Di Sastra Unpad, beliau (teman saya) hanya melihat satu atau dua puisi yang tertempel di ‘mading’, berbeda dengan UPI yang ramai dengan puisi, baik di ‘mading’ maupun tertera langsung di dinding. Mengapa hal ini bisa terjadi? Kulturkah yang menjadikannya seperti ini? Atau disebabkan karena struktur?
Saya pun khawatir dengan mahasiswa Sastra Unpad, apakah banyak mahasiswa yang mengetahui hari puisi sedunia yang ditetapkan oleh sebuah lembaga PBB? Kalau tidak, ini artinya sama saja dengan masyarakat luas yang memiliki paradigma terhadap sastra dan puisi. Indikasinya dapat terlihat, pada tanggal 21 Maret di Fakultas Sastra Unpad tidak ada sama sekali perayaan puisi sedunia tersebut. Bahkan, saya tidak lagi menemukan puisi-puisi terpampang di mading. Apakah hal ini terjadi kembali pada hari puisi nasional yang jatuh pada tanggal 28 April nanti? Terlepas dari perdebatan banyak kelompok mengenai hari puisi nasional yang ditetapkan berdasarkan tanggal wafatnya ‘dewa’ penyair Indonesia, yakni Chairil Anwar.
Harapan menghidupkan kembali suasana sastra melalui puisi di Sastra Unpad ada pada mahasiswa angkatan baru (2007-2008). Siapa lagi yang akan menjadi seorang Bob Marno di Sastra Unpad? Sejak tahun 2000-an, Bob Marno dikenal sebagai seorang penyair yang fenomenal di Sastra Unpad. Membaca puisi di berbagai situasi dan tempat, Bob Marno seperti memiliki rasa penyair yang hidup. Jiwanya seperti telah kerasukan kenikmatan puisi sebagai penyair, dan membuka suara hati dirinya dan pendengar. Tidak mungkin seorang Bob Marno harus kembali lagi ke Sastra Unpad untuk menghidupkan suasan sastra atau puisi di Sastra Unpad. Atau bahkan, tidak mungkin seorang pak Baban yang dikenal pula sebagai ‘puisikus’ Sastra Unpad pada masa kuliahnya harus menghidupkan suasana yang telah mati. Maka, harapan ada pada mahasiswa baru tersebut.
Setelah harapan itu dibentuk, awal hidupnya kembali kegiatan-kegiatan sastra atau puisi di Sastra Unpad tidak hanya ada ketika diskusi kecil diadakan di pelataran Gorky Park, tetapi di berbagai waktu dan tempat. Ketika suasana tersebut telah tumbuh pesat, maka saatnyalah merangkul masyarakat yang ‘takut’ dengan puisi dan lebih memilih pragmatis.

Oleh Fredy Wansyah, dengan nama penanya Fredy Pengembara
fredywp.blogspot.com

kota

Kegiatan sastra yang dilakukan oleh komunitas-komunitas sastra di atas pada dasarnya lebih kepada acara mengundang orang untuk baca puisi, diskusi, dan menerbitkan buku. Sedangkan kegiatan yang membicarakan lahirnya kemungkinan daya estetik baru dalam penulisan karya sastra boleh dibilang tidak tersentuh.

TUMBUH dan berkembangnya gerakan puisi mBeling di Bandung, yang digagas oleh penyair Jeihan Sukmantoro dan Remy Sylado pada awal 1970-an, merupakan reaksi atas digelarnya Perkemahan Kaum Urakan yang diprakarsai penyair sekaligus teaterawan Rendra bersama Bengkel Teater Rendra pada 16 Oktober 1971, di Pantai Parangtritis, Yogyakarta.

Lahirnya gerakan puisi mBeling dalam konteks yang demikian pada satu sisi menunjukkan sebuah semangat pencarian baru dalam bentuk pengucapan puisi, yang pada saat itu bentuk pengucapan puisi liris mulai mendapat tempat yang tak tergoyahkan di majalah sastra Horison, Basis, dan Budaya Jaya.

Tentu saja gerakan yang mengejutkan dari Bandung pada 1970-an, bukan hanya itu. Ada juga gerakan lainnya yang bikin marah penyair Goenawan Mohamad dan Sapardi Djoko Damono. Gerakan tersebut adalah, digelarnya acara Pengadilan Puisi pada 1974, dengan tokohnya antara lain penyair Sutardji Calzoum Bachri, Slamet Sukirnanto, dan Darmanto Jatman.

Adapun yang menyebabkan Goenawan dan Sapardi marah antara lain atas kritik penyair Slamet Sukirnanto terhadap majalah sastra Horison, dengan tuduhan bahwa majalah sastra Horison mengembangbiakkan puisi lirik secara berlebihan sehingga tidak memberi tempat bagi munculnya kemungkinan-kemungkinan baru dalam pengucapan puisi Indonesia modern.

Puisi lirik yang dimaksud Slamet Sukirnanto dalam tulisannya itu adalah puisi yang dikembangkan penyair Goenawan Mohamad dan Sapardi Djoko Damono, yang hingga kini tumbuh dengan amat suburnya. Cabang dari gaya penulisan lirik ini, antara lain saat ini bisa kita lihat pada puisi Acep Zamzam Noor, murid terkasih penyair Saini K.M. dari pondok pesantren Pertemuan Kecil.

Penulisan puisi yang dikembangkan Sutardji Calzoum Bachri dan Darmanto Jatman pada saat itu, boleh dibilang merupakan warna baru juga. Sutardji lebih mengoptimalkan kata beda, keterangan, dan kata sifat dalam puisi-puisinya yang mengangkat mantra sebagai roh bagi daya ekspresinya, yang kemudian dikukuhkannya lewat credo puisi yang ditulisnya. Sedangkan Damanto Jatman mencoba lain, yakni memasukkan kosakata bahasa Jawa dan bahasa asing dalam puisi-puisinya yang semi naratif, yang pada awal-awal perkembangannya ditolak publikasinya oleh majalah sastra Horison.

Lantas bagaimana perkembangan dan pertumbuhan puisi di Bandung sebelum 1970-an? Nyaris sezaman dengan penyair Chairil Anwar di Bandung saat itu ada penyair Rustandi Kartakusumah, setelah itu sezaman dengan Ajip Rosidi di Bandung ada penyair Toto Sudarto S. Bachtiar, Ramadhan KH dan Dodong Djiwapradja. Sedangkan Saini KM mulai malang melintang pada 1960-an setelah diberi kepercayaan mengelola rubrik puisi di lembaran Kuntum Mekar, yakni lembaran yang terbit setiap Minggu di HU Pikiran Rakyat periode awal.

Sebagaimana dikatakan Saini KM dalam percakapannya dengan penulis, bahwa periode Kuntum Mekar, melahirkan pula sejumlah penyair yang tidak bisa dianggap enteng. Paling tidak hal itu bisa kita lihat jejaknya pada kepenyairan Sanento Juliman dan Yuswaldi Salya. Kuntum Mekar yang tutup pada akhir 1965 itu, untuk sementara waktu menyebabkan dunia tulis-menulis puisi di media massa cetak, khususnya di HU Pikiran Rakyat terhenti.

Baru pada 1976, setelah sekian tahun HU Pikiran Rakyat tumbuh dan berkembang dalam manajemen yang baru, Saini KM kembali mengelola rubrik puisi yang diberi nama Pertemuan Kecil. Dari pondok pesantren Pertemuan Kecil lahirlah sejumlah penyair yang malang melintang. Mereka antara lain, Yessi Anwar, Juniarso Ridwan, Moel Mge, Beni Setia, Giyarno Emha, Acep Zamzam Noor, Agus R. Sardjono, Nirwan Dewanto, Nenden Lilis Aisyah, Beni R. Budiman, Cecep Syamsul Hari hingga Ahda Imran, dan sejumlah nama lainnya.

Lepas dari itu, pada awal 1980-an di Bandung, penyair Diro Aritonang dan Yessi Anwar mendirikan komunitas Kerabat Pengarang Bandung (KPB) yang bermarkas di Gedung Kesenian Rumentang Siang. Komunitas ini selain menyelenggarakan berbagai kegiatan sastra seperti baca puisi dan lomba baca puisi, juga menyelenggarakan diskusi sastra. Pada 1985 Kerabat Pengarang Bandung bermetamorfosis jadi Kelompok Sepuluh yang dikomandani Mohamad Ridlo E’isy. Berbagai kegiatan yang dilakukan oleh komunitas ini nyaris sama. Bedanya, acara-acara diskusi yang digelar tidak hanya melulu karya sastra, tetapi juga membahas masalah politik, hukum, agama, dan masalah-masalah sosial.

Seperti komunitas sebelumnya Kelompok Sepuluh pun hanya seumur jagung. Kegiatan sastra hanya hidup di kampus-kampus dengan berbagai kegiatannya. Pada 1994, saya, Juniarso Ridwan, dan Agus R. Sardjono mendirikan Forum Sastra Bandung. Komunitas ini pun seperti komunitas lainnya perlahan surut, disebabkan aktivisnya mulai sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Seiring dengan itu di kampus-kampus selain ada Group Apresiasi Sastra (GAS) ITB, mulai pula muncul ASAS IKIP (UPI) Bandung dan beberapa komunitas lainnya, baik yang ada di Unpad dan beberapa universitas lainnya.

Kegiatan sastra yang dilakukan oleh komunitas-komunitas sastra di atas pada dasarnya lebih kepada acara mengundang orang untuk baca puisi, diskusi, dan menerbitkan buku. Sedangkan kegiatan yang membicarakan lahirnya kemungkinan daya estetik baru dalam penulisan karya sastra boleh dibilang tidak tersentuh. Hal ini saya sadari kemudian. Paling tidak, pada titik ini boleh dikatakan bahwa memikirkan gaya ucap baru, meskipun itu hanya berupa kelokan kecil atau jalan tikus dalam berproses kreatif, ternyata hanya dilakukan oleh masing-masing penyair yang tidak menyerah pada kehendak zaman untuk tidak berhenti menulis, apa pun hasilnya.

Dari generasi saya, misalnya, yang masih menulis adalah, Acep Zamzam Noor, Hikmat Gumelar, dan Nirwan Dewanto. Sedangkan dari Generasi Juniarso Ridwan, selain Juniarso Ridwan adalah Beni Setia dan Yessi Anwar. Demikian juga dengan generasi Nenden Lilis Aisyah, yang masih menulis adalah Mat Don, Ahda Imran, Cecep Syamsul Hari, Eryandi Budiman, dan Mona Sylviana. Boleh jadi yang lainnya masih menulis, dan hal ini tidak terpantau oleh saya.

Tentu saja dalam perjalanannya lebih lanjut, perkembangan dan pertumbuhan kepenyairan di Bandung bukan hanya mereka yang saya sebutkan di atas. Ada generasi Yopi Umbara Putra, Ratna Ayu Budiarti, dan sederet nama lainnya, termasuk generasi Desiyanti Wirabrata dan Sinta Ridwan. Dalam konteks yang demikian itu, maka jelas sudah bahwa Bandung, besar atau kecil, telah menyumbangkan sesuatu bagi perkembangan dan pertumbuhan puisi Indonesia modern. Dan masalahnya sekarang adalah tinggal bagaimana kita melihat itu, dan mendudukkannya secara proporsional sehingga peta yang diharap bisa jelas adanya.

_____________________________________________

dikutip dari Pikiran Rakyat Online
Soni Farid Maulana, penyair, wartawan HU “Pikiran Rakyat” Bandung.

libatPemilu sebentar lagi. Inilah perhelatan akbar yang menyita perhatian semua orang. Di televisi melalui iklan yang berhamburan klaim keberhasilan partai, di koran berupa berita dan (lagi-lagi) iklan. Saat kita keluar rumah, perhatian kita terbetot oleh rimba spanduk yang merayu dan mendayu.
Bukan bermaksud menambah-nambahi (atau sok peduli!), kita (sebagai penyair maupun bukan) perlu pula ikut rembugan Pemilu. Tak berwacana, melainkan sekedar menulis puisi bertemakan Pemilu. Tentu bukan ajang berkampanye (bahkan jika Anda seoramg caleg), tetapi ruang kritik atas Pemilu, yang oleh sebuah organisasi buruh (Pemilu 2009) “bukan Pemilu rakyat”.
LIBAT – Lingkar Seni-Budaya Rakyat, jejaring komunitas seni pro-rakyat – mengundang Anda sekalian yang kebetulan membaca undangan sederhana ini, untuk menulis Puisi Pemilu. Tidak ada syarat bermakna, kecuali satu-dua biji tulisan berbentuk puisi. Puisi-puisi Anda kami tunggu hingga 15 Maret 2009 ini dan dikirim via e-mail: libat@ymail.com.
Puisi terkumpul akan ditampilkan di web LIBAT dan direncanakan diterbitkan dalam bentuk antologi bersama.
Terima kasih atas perhatian dan partisipasi Anda.

Koordinator LIBAT

Joko Sumantri

085647517296

Boemiputra VS TUK

di kutip dari grou facebook 'perang sastra boemiputra VS TUK"

Boemipoetra versus Goenawan Mohamad dan TUK (Bagian 1)*
*Asep Sambodja

Pada bagian pertama tulisan ini, saya akan membaca rubrik Titik Toedjoe jurnal Boemipoetra. Rubrik ini selalu ada setiap penerbitan. Mulai edisi pertama yang terbit pada pertengahan 2007 hingga edisi ke sebelas pada Februari 2009, rubrik ini selalu muncul dan selalu ditempatkan di cover depan. Tulisan singkat padat ini tampil semacam editorial yang menyatakan sikap redaksi terhadap sesuatu. Topik apapun yang dibicarakan biasanya selalu dilihat dari perspektif redaksinya. Karena itu, ada baiknya pada bagian awal tulisan ini saya khusus membaca Titik Toedjoe Boemipoetra.
Penulis Titik Toedjoe biasanya menggunakan nama samaran, seperti Goendik Renjah Meriah, Negarawan Sastra, dan yang paling sering dipakai adalah Babat Hutan Kayu. Sementara nama Wowok Hesti Prabowo muncul dua kali, dan dua kali tidak ada nama penulisnya alias anonim. Namun, kalau kita teliti secara saksama, misalnya dengan melihat pesan yang disampaikan dan diksi yang dipergunakan, maka saya berasumsi bahwa sebagian besar (bukan semuanya) Titik Toedjoe Boemipoetra ditulis oleh Wowok Hesti Prabowo. Ada atau tidak ada nama penulis bukanlah persoalan utama, apalagi menggunakan nama samaran, tidaklah menjadi persoalan penting. Karena, biasanya editorial ditulis tanpa menyertakan nama penulisnya. Isi tulisan itu merupakan sikap umum redaksi media yang bersangkutan dan menjadi tanggung jawab Pemimpin Redaksi. Dalam hal Boemipoetra, tulisan yang berada di rubrik Titik Toedjoe itu menjadi tanggung jawab Wowok Hesti Prabowo; apakah ia menggunakan nama asli, nama samaran, atau tidak menggunakan nama sama sekali.
Sastrawan Indonesia yang menjadi sasaran tembak Boemipoetra adalah Goenawan Mohamad (GM), sedangkan komunitas sastra yang diserang Boemipoetra adalah Teater Utan Kayu (TUK) dan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Ada tiga edisi yang editorialnya khusus menyerang pribadi Goenawan Mohamad, yakni “GM Antek Amerika” yang ditulis Negarawan Sastra pada edisi kedua 8/07, “GM Itu Sampah!” yang ditulis Wowok Hesti Prabowo pada edisi November-Desember 2007, dan “Goendoel Monyet” yang ditulis Babat Hutan Kayu pada edisi November-Desember 2008.
Kenapa Goenawan Mohamad diserang? Boemipoetra menyebut GM yang selama ini dianggap sebagai budayawan ternyata seorang pecundang bangsa, penipu rakyat, dan pelacur budaya. GM dan kawan-kawannya di TUK, yang oleh Boemipoetra disebut sebagai cecunguk-cecunguk GM, dinilai sebagai agen imperialis dan menjadi pintu gerbang bagi penjajahan budaya Indonesia. Sebuah tuduhan yang sebenarnya sangat serius, namun Boemipoetra tidak atau belum memberi hak jawab pada GM.
Ada empat bukti yang disodorkan Boemipoetra terkait dengan GM (saya tulis selengkapnya sebagaimana yang tertera pada edisi kedua). Pertama, GM selama ini mencitrakan dirinya sebagai seorang yang prodemokrasi. Ia jago bicara soal demokrasi. Tapi kenyataannya perilakunya sangat antidemokrasi! Contoh konkretnya adalah kasus DKJ. Nyaris hampir semua pengurus DKJ adalah orang-orang Komunitas Utan Kayu (KUK) yang dipilih dengan cara yang amat tidak demokratis.
Kedua, GM selama ini seolah-olah mencitrakan dirinya seorang yang prorakyat, benarkah? Ternyata itu bohong. Buktinya ia dan antek-anteknya secara nyata mengiklankan dirinya mendukung kenaikan BBM (Bahan Bakar Minyak) melalui iklan sehalaman penuh di berbagai koran nasional. Mereka dibiayai Freedom Institute milik keluarga Bakrie yang kini menenggelamkan Sidoarjo dengan Lumpur Lapindo. Buntut kenaikan BBM itu membuat rakyat menjerit menderita hingga kini, itulah bukti GM mencekik leher rakyat sambil berdansa! Ah…
Ketiga, selama ini GM seolah-olah menghargai keberagaman, nyatanya sebaliknya! Ia dan antek-anteknya memaksakan keseragaman pikiran dan nilai-nilai barat yang diimpornya ke dalam kebudayaan Indonesia. Termasuk upayanya menyeragamkan kesusastraan Indonesia dengan sastra kelaminnya.
Keempat, GM secara nyata-nyata dan penuh kesengajaan merusak kebudayaan Indonesia dengan dalih liberalisme, padahal liberalisme hanya akan melahirkan kolonialisme. Dan GM telah membangun pintu gerbang bagi penjajah! GM antek Amerika tulen! Bagi orang Indonesia yang menjadi antek penjajah berarti pecundang dan pengkhianat bangsa.
Siapa Negarawan Sastra yang memberi bukti-bukti yang menguatkan tuduhan-tuduhan Boemipoetra atas Goenawan Mohamad? Bahkan bukti-bukti itu terasa cukup menohok GM. Namun, bukti-bukti itu tak merangsang GM memberikan tanggapan, hingga Wowok Hesti Prabowo menurunkan tulisan yang terbaca sangat emosional, “GM Itu Sampah!” dan “Goendoel Monyet”.
Dalam wawancara Rizka Maulana dengan Goenawan Mohamad yang diposting oleh Rumah Dunia, Goenawan Mohamad mengaku belum membaca bulletin Boemipoetra. Ketika ditanya, kenapa tidak peduli? Goenawan menjawab, “Saya sedang tak punya banyak waktu. Di samping menulis Catatan Pinggir tiap minggu untuk majalah Tempo, saya sedang menuliskan kembali ceramah saya tentang Estetika Jeda dan satu telaah tentang Pramoedya Ananta Toer. Saya juga sedang menyelesaikan serangkaian sajak dengan mengambil dasar novel Miguel de Cervantes, Don Quixote. Sebentar lagi saya harus menuliskan satu libretto Tan Malaka.”
Dari jawaban Goenawan Mohamad tersebut, tampak bahwa Goenawan Mohamad sangat sibuk dengan berbagai pekerjaan yang berkaitan dengan sastra dan kesenian pada umumnya. Tampaknya Goenawan Mohamad tak sempat untuk berpolemik. Lagi pula, dalam wawancara dengan Rizka Maulana itu, Goenawan juga mengatakan, “Dalam pengalaman di Indonesia ini, sejak Polemik Kebudayaan sangat sedikit polemik yang bermutu.”
Karena kesibukan itu pulalah Goenawan tidak bisa atau tidak sempat menanggapi tuduhan-tuduhan Wowok Hesti Prabowo dan kawan-kawan yang disampaikan melalui Boemipoetra. Ketika Rizka mengkonfirmasi bahwa dalam bulletin itu Goenawan Mohamad disebut sebagai pelacur budaya, Goenawan dengan tenang menjawab, “Mungkin penulisnya anak-anak remaja. Gejala itu seperti corat-coret di tembok kakus. Bagi saya, tak perlu dianggap serius. Saya kira kalau nanti mereka lebih dewasa, akan berubah cara menulisnya.”
Selain Goenawan Mohamad, yang menjadi sasaran kritik Boemipoetra adalah TUK dan DKJ. Setidaknya ada dua edisi yang khusus menulis dua lembaga ini, yakni edisi triwulan pertama 07 yang menurunkan laporan bertajuk “DKJ Cabangnya TUK” yang ditulis Goendik Renjah Meriah dan edisi Januari-Februari 2009 yang menurunkan tulisan dengan judul “DKJ Mandul!” tanpa disebutkan nama penulisnya.
Dalam edisi pertama dan ke sebelas ini, Boemipoetra menilai bahwa DKJ hanyalah cabangnya TUK, yang diplesetkan menjadi Tempat Umbar Kelamin (TUK). Goendik Renjah Meriah (GRM) menyebut TUK sebagai agen imperialis, pintu gerbang penjajahan di bidang budaya Indonesia. GRM juga menuduh GM menggunakan cara licik dan tipu muslihat sehingga memperalat Akademi Jakarta (AJ), “mengapusi” seniman dan Pemerintah Daerah (Pemda) Jakarta dengan membuka cabang di Taman Ismail Marzuki (TIM). Dengan demikian, lanjut Boemipoetra, GM dan TUK bisa mengembangkan ideologinya yang merusak budaya bangsa dengan biaya pemerintah. Ideologi TUK dinilai tidak bermoral, lebih menjunjung perkelaminan, dan tidak nasionalis.
Keluarnya Radhar Panca Dahana dan Ahmadun Yosi Herfanda dari DKJ dikaitkan Boemipoetra dengan kondisi DKJ yang digambarkan seperti itu. GRM yang menulis Titik Toedjoe edisi perdana ini melihat banyaknya dana yang dikucurkan Pemda Jakarta ke DKJ. Setiap tahun dana miliaran rupiah dialirkan Pemda Jakarta ke DKJ. Angka tepatnya tidak disebutkan. Terkait dengan hal itu, Boemipoetra mengusulkan agar pengurus DKJ dan AJ diganti dengan cara yang lebih demokratis dan akomodatif. Selain itu, menganjurkan kepada pembaca agar menyelamatkan DKJ dari agen imperialis perusak moral dan budaya bangsa.
Dalam edisi terkini, Januari-Februari 2009, Boemipoetra menyebut DKJ sebagai komunitas yang mandul, karena keberadaan Marco Kusumawijaya sebagai Ketua DKJ kurang diakui oleh sebagian besar seniman Jakarta. Selain itu pengurusnya juga “terasing” dengan komunitasnya sendiri. Dalam hal pembagian dana, Boemipoetra mencatat bahwa acara Pekan Presiden Penyair Sutardji Calzoum Bachri yang diselenggarakan di TIM tidak mendapatkan bantuan dana sepeser pun. Sementara Utan Kayu International Literary Biennale mendapat bantuan dana Rp 40 juta. Tahun 2009 ini adalah tahun terakhir kepengurusan Marco dan kawan-kawan. Boemipoetra meminta agar KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) mengaudit DKJ. Dan, pemilihan pengurus DKJ 2009-2001 tidak dilakukan secara basa-basi.
Bagaimana komentar TUK yang diwakili Sitok Srengenge? Dalam wawancara dengan Rizka Maulana mengenai hal ini, lagi-lagi terbaca kesibukan orang-orang TUK. Sitok, misalnya, mengatakan, “Saya sekarang ini sibuk sekali. Novel trilogi saya, Kutil, yang dulu dimuat bersambung di harian Suara Merdeka sedang saya tulis ulang. Saya juga sedang menyiapkan buku kumpulan puisi yang baru, mudah-mudahan tahun depan bisa terbit. Belum lagi urusan pekerjaan di KUK, Penerbit KataKita, dan sejumlah pekerjaan lain yang membuat saya harus mondar-mandir Jakarta-Yogyakarta.”
Tampaknya, orang-orang TUK/KUK memang sibuk-sibuk, sehingga polemik yang diharapkan terjadi tak bisa bersemi. Namun, terkait dengan polemik itu, Sitok mengatakan, “Ada selebaran yang sampai ke tangan saya. Di sana tak saya temukan lontaran ide atau konsep yang jelas, yang disampaikan dengan argumentasi dan didukung fakta dan data. Yang dominan justru gossip, makian, dan bahkan fitnah. Itu bukan polemik namanya.”
Sitok mencontohkan, pernyataannya yang dikutip Boemipoetra yang berbunyi “Penyair yang tidak diundang ke KUK bukan penyair” dan disebut sebagai sikap yang arogan itu sama sekali tidak berdasar. “Tolong tunjukkan kapan, di mana, dalam forum apa saya mengatakan itu? Kalau kalimat itu saya nyatakan secara tertulis, tulisan itu dimuat di media apa, kapan tanggal pemuatannya? Nah, sebaliknya, siapapun yang menuduh tanpa bisa menunjukkan bukti, itu memfitnah,” katanya.
Dalam wawancara Sitok Srengenge dengan Rizka Maulana yang cukup panjang itu, Sitok juga menyatakan bahwa Wowok konon bertujuan untuk menganggap KUK tidak penting. “Itu bagus. Tapi mengapa dia begitu peduli dengan KUK? Harusnya KUK dia abaikan saja. Bikin kegiatan lain yang lebih bagus. Kembangkan jaringan yang lebih luas,” ujar Sitok.
Lebih lanjut, dikatakan bahwa serangan Wowok Hesti Prabowo dan Saut Situmorang tak bisa dikatakan sebagai kritik. “Sejauh yang saya pahami, tindakan mereka hanya marah-marah atau berpura-pura marah,” tegas Sitok. “Yang saya sayangkan, kenapa mereka menempuh cara-cara kasar seperti itu. Secara pribadi kami tak punya masalah dengan mereka. Kami saling kenal. Dengan mudah mereka bisa bertanya atau berdialog langsung jika ada hal-hal yang perlu dikomunikasikan. Tapi, soalnya, lain jika mereka cuma bisa membuat selebaran yang isinya mau ganas, tapi hanya menjemukan.”
Benarkah isi Boemipoetra menjemukan sebagaimana kata Sitok Srengenge? Benarkah hanya orang-orang TUK/KUK saja yang sibuk? Bagaimana karya-karya sastra yang dimuat di Boemipoetra—mengingat mereka mengklaim “karya-karya ‘gerombolan TUK’ jauh lebih jelek dibandingkan sastrawan-sastrawan daerah yang bertebaran di berbagai pulau di Indonesia”? Apakah benar dalam djoernal Boemipoetra tidak ada ide atau konsep yang jelas sebagaimana dikatakan Sitok Srengenge?

________________________________

dikutip dari catatan Facebook Asep Sambodja

Sastra dan Ideologi*

Fredy Wansyah               

Sastra di beberapa negara menjadi ‘momok’ yang menakutkan bagi penguasa. Di Rusia pada masa kejayaan Stalin, karya-karya sastra yang menyimpang dari sudut pandang penguasa dan mengganggu kekuasaan disingkirkan dari negara, akibatnya Boris Pasternak dengan karyanya yang dilarang, yakni Doctor Zhivago mendapatkan penghargaan Nobel Sastra. Di Indonesia, realita seperti di Rusia tersebut dengan mudah kita dapati. Wiji Thukul, Pramoedya Ananta Toer, dan beberapa sastrawan Lekra mendapatkan intimidasi dari negaranya sendiri. Pram dalam merespon tulisan Goenawan Muhamad di media Tempo1 menyatakan ‘geram’ atas tingkah pemerintah negaranya sendiri, padahal di maerika buku-buku karya sastranya diwajibkan di jenjang sekolah tingkat lanjutan. Wiji Thukul mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi dari, ironisnya karya-karya Wiji Thukul di anggap oleh akademisi negaranya sendiri merupakan karya sastra yang tidak bernilai estetika tinggi, padahal karya-karyanya di negara kincir angin mendapatkan penghargaan Werthrin Encourage Award.

Sastra sampai saat ini belum memiliki devisi yang disepakati bersama secara universal. Ketika muncul devinisi sastra, muncul pula devinisi yang baru di tempat lain atau pun di waktu yang lain. Estetika menjadi unsur terpenting sastra, pada lingkaran estetika ini pun masih diperdebatkan oleh para penggiat sastra. Secara etimologis sastra berasal dari bahasa sansekerta, kata Sas- dan –Tra yang berarti alat mengarahkan. Pada kasus-kasus di atas, karya sastra dapat di artikan sebagai alat yang mengarahkan perusakan kejayaan. Karya sastra mampu menghancurkan tatanan kekuasaan negara, sehingga sikap-sikap intimidasi individu dan karya sastra pun dimunculkan oleh pemerintah.

Di abad ke 17 Terry Eagleton membicarakan banyaknya ruang-ruang diskusi publik terhadap sastra2. Pembicaraan sastra di ruang public akan membahas banyak hal, diantaranya pemerintahan, kebudaaan, dan kemanusiaan. Dalam ruang tersebut pembahasan karya sastra cenderung serius, bukan berarti bahwa keseriusan pembahasan karya sastra selalu berada di ruang akademik. Sebagai pencipta karya sastra, ideologi yang ditanamkan di kepalanya akan mengalir dalam karya sastranya. Menciptakan karya sastra seolah-olah mengarahkan atau memberikan pandangan keberadaan sekitarnya melalui ideologi yang digunakan, terlepas apapun ideologi. Saat ini, pandangan masyarakat terhadap ideologi selalu dikait-kaitkan dalam dunia politik kekuasaan3. Tidak selamanya ideologi merupakan sesuatu yang harus berada pada politik kekuasaan.

_____________________________________

1TEMPO, Edisi 000409-005/Hal. 96

2Kritik Sastra, Terry Eagleton.

3 Pandangan seorang pengunjung dalam diskusi Sastra dan Ideologi saat Launching Komunitas Sastra Langkah

 

Januari 2012
S S R K J S M
« Apr    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Klik tertinggi

  • Tidak ada

user online


Masukkan Code ini K1-9359D6-1
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com
Now Playing: artis
MailBoxDrive

Ruang Download

Buletin Langkah l (edisi April, PDF) Buletin Langkah ll (edisi April, PDF) E-antologi Cerpen (format PDF) E-antologi Cerpen (format docx) EL.docx
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.